MAGETAN, Linknews.id – Percepatan swasembada gula nasional di Kabupaten Magetan tidak lagi hanya mengandalkan ekspansi lahan, melainkan melalui intensifikasi produktivitas berbasis teknologi budidaya. Program bongkar ratoon (peremajaan tebu tua) yang digencarkan sejak awal 2026 menjadi instrumen kunci dalam transformasi ini, dengan target realisasi 1.200 hektare tahun ini guna meningkatkan rendemen dan stabilitas pendapatan petani tebu.
General Manager PG Purwodadie Philipus Setyawirawan menegaskan bahwa hingga pertengahan Juni 2026, sebanyak 1.000 hektare telah terealisasi dan mendapatkan Surat Keputusan (SK), sementara sisa 200 hektare ditargetkan rampung dalam satu bulan ke depan. Distribusi bibit tebu, termasuk varietas masak awal yang melengkapi dominasi varietas masak lambat, mulai dilakukan untuk mengoptimalkan pasokan bahan baku pabrik secara berkelanjutan sepanjang musim giling.
"Diversifikasi varietas bukan sekadar pilihan agronomis, melainkan kebutuhan operasional pabrik. Varietas masak awal memungkinkan kita meratakan pasokan tebu, mengurangi tekanan logistik di puncak musim giling, sekaligus memaksimalkan kapasitas produksi," ujar Philipus.
Bupati Magetan Nanik Sumantri, yang menghadiri panen dan tanam serentak virtual bersama Pemprov Jatim di Desa Kedungguwo, Kecamatan Sukomoro, menekankan bahwa keberhasilan program ini harus diukur dari dua indikator: kenaikan rendemen tebu dan peningkatan net income petani. Panen perdana seluas 400 hektare yang dikirim ke PG Purwodadie menjadi validasi awal bahwa peremajaan tanaman mampu menghasilkan kualitas tebu yang lebih unggul dibanding ratoon tua yang sudah tidak produktif.
"Kesejahteraan petani tebu tidak bisa dibangun di atas fondasi tanaman yang menua. Bongkar ratoon adalah investasi jangka menengah yang memastikan setiap hektare lahan memberikan hasil maksimal. Ketika rendemen naik, margin keuntungan petani ikut terdongkrak secara signifikan," tegas Nanik.
Sinergi antara pemerintah daerah, pabrik gula, dan kelompok tani dalam program ini mencerminkan pendekatan pembangunan pertanian yang terintegrasi. Dengan kombinasi peremajaan lahan, diversifikasi varietas, dan dukungan kebijakan yang konsisten, Magetan berupaya mengubah paradigma budidaya tebu dari subsisten menuju sistem agribisnis yang efisien, berkelanjutan, dan berdaya saing dalam mendukung ketahanan pangan nasional. (HUM/RED)