Home Pemerintahan

GAS PAK CAMAT Lamongan: Strategi Mitigasi Inflasi Pangan Melalui Ketahanan Rumah Tangga dan Optimalisasi Lahan Sempit

by linknews.id - 30 Juni 2026, 13:37 WIB

LAMONGAN, Linknews.id – Volatilitas harga cabai yang konsisten mendominasi penyumbang inflasi pangan di Kabupaten Lamongan pada periode Mei-Juni 2026 mendorong pemerintah daerah merumuskan intervensi yang bersifat preventif dan partisipatif. 

Program GAS PAK CAMAT (Gerakan Serentak di Pekarangan Tanam Cabai dan Tomat) yang dicanangkan secara serentak di 27 kecamatan, Senin (29/6/2026), bukan sekadar kampanye simbolis, melainkan upaya sistematis untuk mentransformasi pekarangan rumah menjadi unit produksi pangan mandiri guna mengurangi ketergantungan pasar dan menekan tekanan inflasi dari sisi permintaan.

Bupati Yuhronur Efendi menegaskan bahwa stabilitas inflasi Lamongan selama ini terjaga baik, kecuali pada komoditas cabai yang fluktuasinya sulit dikendalikan melalui mekanisme pasar konvensional. 

"Cabai tetap menjadi pengecualian dalam rekam jejak pengendalian inflasi kita. Gerakan ini bertujuan memutus siklus ketergantungan pasokan eksternal dengan membangun kemandirian pangan tingkat rumah tangga," ujarnya saat memimpin pencanangan daring dari SDN Tejoasri, Kecamatan Laren. 

Distribusi 5.670 bibit (cabai rawit, cabai besar, dan tomat) ke seluruh kecamatan merupakan investasi mikro yang dirancang untuk menciptakan efek multiplier: ketika ribuan rumah tangga memproduksi sendiri kebutuhan bumbu dapur, guncangan harga di tingkat konsumen dapat diredam secara organik.

Dari perspektif ekonomi pembangunan, optimalisasi pekarangan memiliki dimensi ganda. Selain berfungsi sebagai bantalan sosial saat harga melonjak, pemanfaatan lahan sempit juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi keluarga. 

Bupati mencontohkan keberhasilan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Mugito yang memanen cabai dari enam galon tanam selama berbulan-bulan tanpa biaya pembelian. Model sederhana ini membuktikan bahwa ketahanan pangan tidak selalu memerlukan skala industri; perubahan perilaku dan pembiasaan bertanam di ruang terbatas mampu menghasilkan output signifikan jika digerakkan secara kolektif.

Keberhasilan GAS PAK CAMAT akan bergantung pada keberlanjutan pasca-pencanangan. Tantangan terbesarnya adalah mengubah gerakan serentak menjadi kebiasaan budaya produktif yang melekat dalam kehidupan sehari-hari warga. 

Diperlukan pendampingan teknis berkelanjutan, bukan hanya penyerahan bibit, agar tanaman benar-benar tumbuh dan berproduksi optimal. Jika berhasil, Lamongan tidak hanya mengendalikan inflasi cabai, tetapi juga membangun fondasi ketahanan pangan lokal yang resilien terhadap guncangan eksternal—sebuah model yang relevan untuk direplikasi di daerah lain yang menghadapi masalah serupa. (HUM/RED)

Share :

Popular Post