Foto : Beberapa peserta festival ledre Purwosari
BOJONEGORO, LINKNEWS.ID – Pemerintah Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, mulai mendorong ledre sebagai produk unggulan daerah melalui Festival Ledre yang digelar pada Kamis (8/10/2026) malam. Selain memperkenalkan kuliner khas Bojonegoro, kegiatan ini menjadi upaya memperluas pasar produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Festival yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di Kecamatan Purwosari tersebut sekaligus membuka rangkaian peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349. Kegiatan ini melibatkan pelaku usaha, pengrajin ledre, pelajar, serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).
Camat Purwosari Ike Widyaningrum mengatakan, penyelenggaraan festival menjadi kesempatan untuk memperkuat potensi ekonomi masyarakat, terutama karena wilayahnya dikenal sebagai salah satu sentra produksi ledre.
Menurut Ike, ledre tidak hanya memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga menyimpan potensi sebagai identitas daerah yang dapat diperkenalkan lebih luas kepada publik.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu membuka peluang usaha baru sekaligus mendorong pelaku UMKM untuk terus berinovasi dalam mengembangkan produk.
“Ledre tidak hanya menjadi mata pencaharian masyarakat, tetapi bagian dari keunikan dan keunggulan daerah. Kami berharap ledre dapat menjadi salah satu identitas Kabupaten Bojonegoro,” ujarnya.
Libatkan puluhan UMKM dan pengrajin
Festival Ledre tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial. Sejumlah agenda pemberdayaan telah dilaksanakan sejak 5 Oktober 2026, dimulai dengan pelatihan wirausaha baru yang diikuti 22 peserta di Balai Desa Gapluk. Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja.
Sehari sebelum puncak festival, lokakarya digelar di aula SMK Purwosari dengan melibatkan para siswa. Materi disampaikan oleh perwakilan Dinas Pariwisata, PEPC, Bojonegoro Raya, serta pelaku usaha ledre setempat.
Pada hari puncak, sebanyak 40 pelaku UMKM dari Kecamatan Purwosari mengikuti bazar produk lokal. Kegiatan juga diisi dengan pembuatan ledre secara massal yang melibatkan 59 pengrajin.
Perkembangan produk ledre menjadi salah satu hal yang ditonjolkan dalam festival tersebut. Jika sebelumnya lebih dikenal dengan cita rasa pisang yang khas, kini ledre mulai dikembangkan dalam berbagai varian, termasuk ukuran mini yang menyasar segmen pasar berbeda.
Inovasi tersebut dinilai dapat memperluas pilihan konsumen sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di tengah persaingan pasar kuliner.
Pertumbuhan ekonomi nonmigas menjadi perhatian
Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah yang menghadiri kegiatan itu menyampaikan salam dari Bupati Setyo Wahono yang berhalangan hadir. Ia menegaskan, pengembangan UMKM dan potensi lokal sejalan dengan upaya pemerintah daerah memperkuat perekonomian di luar sektor minyak dan gas bumi (migas).
Nurul memaparkan, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bojonegoro pada semester I 2026 tercatat minus 3,72 persen apabila memperhitungkan sektor migas. Kondisi tersebut dipengaruhi penurunan produksi dan pendapatan dari sektor migas.
Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi nonmigas tercatat mencapai 6,62 persen. Menurut dia, angka tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan sektor-sektor lain untuk menopang perekonomian daerah.
“Ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi ditopang oleh berbagai sektor,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Nurul meminta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menjadikan festival berbasis potensi lokal sebagai agenda tahunan yang terencana.
Ia juga mengusulkan agar penyelenggaraan festival di 28 kecamatan di Bojonegoro dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan OPD terkait. Dengan pola tersebut, kegiatan diharapkan tidak berhenti sebagai acara tahunan, tetapi berkembang menjadi sarana promosi produk, budaya, dan potensi ekonomi setiap wilayah.
“Jika disinergikan dengan semua OPD dan dijadwalkan dengan baik, ini akan menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh banyak masyarakat,” ujarnya.
Kampung Ledre untuk memperkuat identitas daerah
Nurul turut mengapresiasi perkembangan ledre Bojonegoro yang dinilai memiliki peluang untuk terus dikembangkan. Ia mengingatkan bahwa ledre telah menjadi produk andalan Purwosari sejak wilayah tersebut mengikuti lomba tingkat provinsi pada 2005.
Kini, pengembangan ledre tidak hanya dilakukan melalui variasi rasa, tetapi juga melalui inovasi produk dan penyajian. Salah satunya Ledre Sultan yang dipasarkan sebagai varian premium dengan kemasan lebih menarik. Selain itu, terdapat Kopi Ledre yang berpotensi menjadi alternatif sajian khas Bojonegoro.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan peluncuran Kampung Ledre oleh Wakil Bupati Nurul Azizah bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan kepala OPD.
Sebelum meninggalkan lokasi, Nurul juga menjajal langsung proses pembuatan ledre melalui kegiatan memasak bersama para pengrajin.
Melalui Festival Ledre dan peluncuran Kampung Ledre, Purwosari diharapkan tidak hanya dikenal sebagai sentra produksi kuliner tradisional, tetapi juga mampu mengembangkan ekosistem usaha yang memberi nilai tambah bagi masyarakat. Tantangannya, inovasi produk, promosi, dan keberlanjutan pemasaran perlu berjalan beriringan agar ledre semakin kuat sebagai salah satu ikon kuliner Bojonegoro. (KOM/RED)