Home Daerah

Dinsos Bojonegoro Gandeng Akademisi, Dongkrak UKM Disabilitas Lewat Produk Herbal Berbasis Riset

by linknews.id - 04 Juni 2026, 10:19 WIB

BOJONEGORO, Linknews.id – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Sosial (Dinsos) berkolaborasi dengan perguruan tinggi setempat untuk meningkatkan kemandirian ekonomi penyandang disabilitas. Kolaborasi ini diwujudkan dalam program pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang fokus pada pengembangan produk herbal berbasis Evidence-Based Medicine (EBM) atau pengobatan berbasis bukti ilmiah.

Program yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) DIKTI – LLDIKTI Wilayah VII melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STIKES Rajekwesi Bojonegoro ini resmi diluncurkan di Balai Desa Dander, Kecamatan Dander, Rabu (3/6/2026).

Ketua STIKES Rajekwesi Bojonegoro, Evita Isnanda, menjelaskan bahwa pendekatan EBM dipilih untuk memastikan produk herbal yang dihasilkan para pelaku usaha disabilitas memiliki standar kualitas, keamanan, dan khasiat yang terukur secara ilmiah. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk di pasar yang lebih luas.

"Kami tidak hanya mengajarkan cara memproduksi, tetapi juga bagaimana memastikan produk tersebut valid secara medis. Ini adalah bentuk pendampingan holistik dari hulu ke hilir," ujar Evita.

Aspirasi Pelaku Usaha

Dalam sesi dialog interaktif, para peserta menyampaikan berbagai kendala dan harapan. Munari, anggota Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kecamatan Balen, mengapresiasi bantuan peralatan usaha yang telah diterima sebelumnya. Namun, ia berharap adanya dukungan tambahan berupa alat pelengkap produksi untuk memaksimalkan kapasitas output.

"Bantuan alat awal sangat membantu, namun untuk memenuhi target pasar, kami membutuhkan beberapa alat pendukung lainnya agar proses produksi lebih efisien," ungkap Munari.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Bojonegoro, Nafiatin Ni'mah, menyatakan komitmen dinas untuk terus mengawal keberlanjutan program. Ia menegaskan bahwa Dinsos akan berkoordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk memfasilitasi kebutuhan alat serta menyediakan pelatihan manajemen usaha.

"Masukan dari teman-teman disabilitas menjadi evaluasi penting bagi kami. Ke depan, kami akan memastikan tidak hanya aspek produksi, tetapi juga pemasaran dan manajemen keuangan menjadi bagian dari pendampingan," kata Nafiatin.

Kolaborasi Lintas Sektor

Kegiatan ini juga melibatkan Wakil Ketua 3 STIE Cendekia Bojonegoro, Ahmad Saifurriza Effasa, dan Ketua Program Kemitraan Masyarakat (PKM), Rony Setianto, yang berperan dalam aspek manajemen bisnis dan kewirausahaan. Sekretaris Desa Dander, Ardi Sanjaya, serta Ketua Mitra Aneka Warna juga hadir mendukung inisiatif ini.

Sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, dan organisasi disabilitas ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem usaha yang inklusif. Dengan pendampingan yang komprehensif—mulai dari standardisasi produk, manajemen operasional, hingga penguatan kompetensi—para pelaku usaha disabilitas diharapkan mampu bersaing secara mandiri dan berkontribusi positif terhadap perekonomian daerah. (KOM/RED)

Share :

Popular Post