Home Wisata

Banyu Kuning Bojonegoro, Laboratorium Alam Geotermal di Balik Hutan Jati Temayang

by linknews.id - 07 Agustus 2026, 22:03 WIB

BOJONEGORO, Linknews.id – Tersembunyi di balik rimbunnya hutan jati Kecamatan Gondang, Mata Air Panas Banyu Kuning menawarkan pengalaman wisata yang melampaui sekadar rekreasi air hangat. Objek wisata alam di Desa Krondonan ini berfungsi sebagai laboratorium terbuka untuk memahami dinamika sistem panas bumi (geothermal), proses hidrotermal, dan interaksi kompleks antara air tanah dengan batuan vulkanik purba.

Dinamai "Banyu Kuning" karena endapan oksida besi (Fe₂O₃) yang melapisi bebatuan dasar sungai, mata air ini merupakan manifestasi permukaan dari aktivitas magmatisme Gunung Pandan purba. Suhu air yang berkisar 40°C hingga 60°C, ditambah kandungan belerang (sulfur) dan mineral sekunder berwarna merah, menjadi indikator nyata sirkulasi fluida hidrotermal yang masih aktif di bawah permukaan.

Secara geologis, kawasan ini tersusun atas batuan andesit bertekstur hipokristalin berumur Pleistosen. Rekahan-rekahan pada batuan masif ini berperan sebagai jalur konveksi alami: air tanah meresap ke kedalaman, terpanaskan oleh sisa energi magmatik, lalu naik kembali membawa larutan mineral besi. Ketika mencapai permukaan, perubahan tekanan dan suhu memicu presipitasi, menciptakan lanskap kuning-merah yang unik sekaligus bernilai edukasi tinggi.

Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar 50 kilometer dari Kota Bojonegoro, melewati jalanan berkelok dan setapak di kawasan hutan Temayang. Kondisi alam yang masih asri menjadikan Banyu Kuning bukan hanya destinasi foto, tetapi juga ruang refleksi tentang ketahanan ekosistem hutan jati sebagai daerah tangkapan air (catchment area) bagi sumber daya geotermal.

Keberadaan Banyu Kuning menegaskan bahwa Kabupaten Bojonegoro memiliki potensi geo-wisata yang signifikan. Namun, pengembangan pariwisatanya harus tetap mengedepankan prinsip konservasi. Memahami proses pembentukan mata air ini bukan hanya memuaskan rasa ingin tahu wisatawan, tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan hidrologis agar warisan alam ini dapat dinikmati secara berkelanjutan oleh generasi mendatang. (KOM/RED)

Share :

Popular Post