Update

8/recent/ticker-posts

Wartawan Senior Ini Ikut Tantang Wacana Pendirian Universitas di Aceh Timur


ACEH TIMUR -  Wacana pendirian Universitas di Aceh Timur semakin melahirkan Pro dan kontra, selain Dwi Candra Pranata yang tidak setuju dengan wacana tersebut, Ismail Abda juga mengatakan hal yang sama. 

Kedua kuli tinta ini berpandangan hampir sama, yakni kalau tujuan pendirian Univeritas untuk melahirkan SDM yang profesional di Aceh Timur, maka yang lebih penting adalah menyempurnakan SDM yang sudah ada sekarang. 

Menurut Ismail Abda yang juga wartawan senior, Wacana yang tidak mudah terwujud ini belum saatnya dibawas untuk Aceh Timur. 

 Seperti Pepatah aceh menyebutkan " Patimah Pati Kunyet, on si on tumpang langet ". Yg bermakna " Dengan daun setangkai jangan coba menumpang langit".

" Bukan berarti tidak butuh, yang namanya pendidikan itu semua butuh, tapi belum saatnya untuk didirikan di Aceh Timur, kita perbaiki dulu kualitas pendidikan Dasar dan Menengah, setelah itu baru kita pikirkan Universitas ". Katanya 

Pendiri Organisasi Persatuan Wartawan Aceh Timur (PESAWAT) ini sependapat dengan Dwi Candra Pranata. Yang dibutuhkan Aceh Timur Hari ini adalah akses transportasi antar kecamatan dan Desa yang lancar. 

Baca Juga : Aktivis Aceh Timur Jangan Latah

Kata Dia, Untuk saat ini di Kota Langsa ada Universitas Negeri dan Swasta yang masih mampu menampung putra-putri Aceb Timur, dan  jarak antara Langsa dengan Aceh Timur hanya 80 km dengan waktu tempuh kurang dari satu jam. 

Bahkan PNS Aceh Timur banyak yg tinggal di Langsa dan setiap hari pulang-pergi.

Ditambahkan, daripada membangun universitas yang membutuh waktu lama, dana yang besar,  harus  dilengkapi fasilitas yang memadai termasuk tenaga Dosen pengajar,  alangkah  baiknya  Pemerintah Aceh Timur membeli Bus Sekolah untuk mahasiswa Aceh Timur yang melayani rute Idi-Langsa dan Idi -Lhokseumawe. 

Mantan Karyawan Serambi Indonesia ini juga menyanggah kalau alasan pendirian Universitas untuk melahirkan SDM yang profesional untuk Aceh Timur sangat bertolak belakang dengan kenyataan. Selama ini sudah ratusan putra-putri Aceh Timur sudah menyelesaikan studynya diberbagai universitaa baik di Aceh maupun di Luar Aceh yang dibiayai dengan anggaran Pemerintah Aceh Timur. 

Akan tetapi banyak para sarjana yang dilahirkan dari uang rakyat  tersebut menjadi pengangguran setelah kembali ke Aceh Timur.lalu timbul tanda tanya, SDM yang bagaimanakah yang dibutuhkan Aceh Timur sehingga harus mendirikan Universitas?.

" Sebaiknya gunakan dulu SDM yang sudah lahir, insyaallah rame pemuda-pemudi yang sudah sarjana di Aceh Timur masih pengangguran, lebih baik ciptakan lapangan kerja ketimbang dirikan Universitas". Kata Ismail Abda

Dia berharap, sebelum wacana ini dibahas lebih jauh, mari kita wacanakan terlebih dahulu bagaimana harga komuditi hasil perkebunan rakyak bisa naik, bagaimana agar rakyat lancar mengangkut hasil taninya. 

Khusus untuk DPRK, ismail berpesan agar meningkatkan fungsi pengawasan, banyak proyek fisik baik itu bangunan gedung yang baru dibangun sudah runtuh, jalan yang baru diaspal sudah terkupas. Penyaluran BLT dan UMKM tidak tepat sasaran, rumah bantuan diperjualbelikan. Dan mengurungkan wacana universitas.

" Untuk diketahui, sejumlah Universitas yang sudah ada di Aceh saat ini penuh dengan pelanggaran, rata-rata melanggar permendikbud no 7 tahun 2020  tentang PTN dan PTS,  dimana rata-rata kampus tenaga pengajarnya  banyak yang pegawai tetap di instansi lain ". Ujarnya.

Mengakhiri pendapatnya, kalau pemerintah Aceh Timur benar- benar peduli pendidikan, ayo salurkan bea siswa yang tepat sasaran, jangan seperti yang sudah-sudah, ada orang kejaksaan yang hanya bertugas enam bulan di Aceh Timur dapat bantuan beasiswa puluhan juta. (Rom)

Post a Comment

0 Comments