Update

8/recent/ticker-posts

Aktivis Aceh Timur Jangan Latah

 


Oleh : Dwi Chandra Pranata, S.Psi

Terkait diskusi publik yang diadakan oleh para tokoh dan aktivis dari berbagai golongan tentang pendirian Perguruan Tinggi di Aceh Timur beberapa waktu menimbulkan tanda tanya bagi sebagian masyarakat yang cinta terhadap Aceh Timur. 

Pendirian kampus butuh banyak pertimbangan baik dari segi sumber daya manusianya, kelayakan daerahnya, serta urgensi tentang kebutuhan kampus didaerah tersebut. Bukan hanya sekedar ide karena kekurangan gagasan, bukan hanya sekedar gagasan kurangnya wacana dan bukan pula wacana untuk menjatuhkan. Ini menjadi penting untuk kita pikirkan bersama demi kemajuan Aceh Timur. 

Pada prinsipnya kita harus melihat apakah hari ini Aceh Timur benar-benar membutuhkan universitas dengan alasan yang sederhana, agar siswa Aceh Timur memiliki wadah untuk pengembangan diri setelah SMA? atau hanya sekedar alasan bahwa pendirian itu untuk meningkatkan kualitas anak bangsa yang ada di Aceh Timur?.

Mari kita lihat bagaimana selama ini pemerintah Aceh Timur mementingkan pendidikan untuk meningkatkan kualitas masyarakatnya. Asrama mahasiswa Aceh Timur ada di Banda Aceh, beasiswa setiap tahun disediakan oleh pemerintah Aceh Timur, program pemerintah pusat dan provinsi melalui beasiswa kurang mampu, bidikmisi, afirmasi juga berbagai program CSR perusahaan lainnya yang dimanfaatkan oleh generasi muda Aceh Timur. 

Ada juga program beasiswa untuk mereka berprestasi dan mendapatkan kuliah gratis tidak hanya di dalam tapi juga di luar negeri. Apakah itu masih kurang? Hanya perlu pemanfaatan yang efektif untuk menyelesaikan masalah klasik yang selama ini dibesar-besarkan dan justu menimbulkan masalah baru.

Bisa kita lihat di lapangan berapa banyak bangunan terminal di Aceh Timur yang terbengkalai dan tidak berpenghuni, bangunan megah sekolah yang hanya menjadi bangunan kosong dan rongsokan besi tua, berapa banyak fasilitas lainnya yang kita tidak paham cara memanfaatkannya dengan baik akibat dari kelatahan para pengambil kebijakan. 

Sangat disayangkan ketika banyak fasilitas dibangun, tapi setelah bangunan itu selesai kita tidak paham bagaimana cara mengisinya, siapa yang akan mengisinya, dan yang lebih parah kita tidak tau untuk apa bangunan itu di dirikan setelah bangunan itu jadi.

Siapa yang dirugikan? masyarakat, siapa yang disalahkan? tentu pemerintah, siapa yang diuntungkan? jelas mereka yang bermain dengan proyek. Itu karena kelatahan kita dalam menyampaikan aspirasi, keegoan kita terhadap penyampaian ide. Jangan lagi kita membuat masalah baru yag justru akan menjadi bahan untuk kita menyalahkan pemerintah, sudah saatnya berpikir untuk bagaimana memberikan manfaat bagi masyarakat yang dilahirkan melalui program-program yang bermanfaat.

Aceh Timur belum butuh Universitas, karena yang dibutuhkan adalah kualitas pemangku kebijakan untuk melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga mereka siap untuk mengisi dan berperan dalam membangun Aceh dan memberikan manfaat bagi kemajuan Aceh Timur. 

BACA JUGA: Aceh Timur Belum 'Butuh' Universitas

Langsa dan Lhokseumawe yang jaraknya sangat dekat bagi Aceh Timur memiliki 5 kampus negeri yang mampu kita manfaatkan dengan baik. 

Caranya, tentu meningkatkan kualitas siswa, fasilitasi akses untuk melanjutkan pendidikan, sediakan beasiswa, dan asrama bagi mereka yang benar-benar kurang mampu secara ekonomi tapi bersungguh-sungguh dalam mewujudkan mimpi. 

Pendirian kampus di Langsa juga atas inisiasi tokoh-tokoh Aceh Timur dengan tujuan memberikan wadah pendidikan untuk anak muda Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang.

Andai Aceh Timur berdiri kampus, dikecamatan apa letaknya? siapa yang akan akan jadi mahasiswanya? belum lagi tenaga pengajar yang sudah tentu akan diisi oleh orang luar daerah dan ini pasti akan menimbulkan masalah baru. Baik dari segi pendanaan, SDM, maupun kesesuaian kompetensi. 

Karena itu Aceh Timur hari ini belum pantas untuk didirikannya Perguruan Tinggi. Apakah kita lupa universitas Jabal Ghafur, Universitas Al Muslim dan berbagai kampus lainnya yang justru lebih besar gedungnya dari pada jumlah mahasiswanya, banyak prodi tutup karena tidak ada peminatnya. 

Dan apakah kita tidak terpikir jika ada kampus baru, mau dibawa kemana lulusannya, mau dijadikan apa alumninya. Jangan hanya kita berpikir megah sesaat lalu bingung sepanjang abad. Ini tentu akan menimbulkan masalah baru, yaitu “pengangguran berlabel sarjana”.

Sudah bukan zamannya lagi kita mengedepan egosentrisme kedaerahan, hari ini sudah saatnya kita bangkit bergerak bersama untuk memajukan sumber daya manusia dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. 

Beri akses Siswa/siswi Aceh Timur untuk mendapat pendidikan yang layak baik di dalam maupun luar negeri dengan berbagai program pemerintah, misalnya afirmasi untuk mereka yang berada di pedalaman dan kurang mampu, bidikmisi yang selama ini juga sudah berjalan, prestasi bagi mereka yang memiliki prestasi dan ingin mengembangkan diri, CSR perusahaan bagi anak-anak yang memiliki kapasitas namun terkendala biaya dan berada di lingkungan perusahaan tersebut, serta masih banyak program inovatif lainnya yang harus kita suarakan pada pemerintah selaku pengambil kebijakan.

Sehingga program yang dijalankan akan memberikan manfaat bagi masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya daerah untuk memajukan Aceh Timur yang lebih baik. Bukan hanya sekedar program megah namun hanya sesaat, program indah namun tidak memberikan manfaat serta tidak paham cara memanfaatkannya.

Dwi Chandra Pranata, S.Psi, Ktetua Ikatan Alumni SMAN Unggul Aceh Timur, Putra Aceh Timur yang sedang mengabdi di Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.

Post a Comment

0 Comments